My IELTS Drama: When Nothing Beats Determination

As many would say, nothing worth comes easy. So does pursuing master degree abroad. It’s never been easy from the very beginning nor in the end. And here is my story….

Warning: Sebelum kalian lanjut membaca, saya mau mengingatkan kalau ceritanya (saya akui) super panjang! Haha maaf tapi ini udah versi singkat dari drama IELTS yang saya alami sebelum berangkat S2. So…. brace yourself!!

Rencana untuk melanjutkan sekolah ke luar negri sudah ada di benak saya sejak saya menulis thesis S1. Pilihan negaranya pun juga sudah jelas. Belanda. Kenapa? Karena disana ada mama yang lagi sekolah S3 jadi bisa sekalian ngirit living cost hehehe. Dimulai lah step paling awal: memilih universitas.

Saat browsing univ-univ yang ada di Belanda, persyaratan di semua universitas kurang lebih sama. Transkrip nilai S1, course description yang sudah diambil, ijazah S1, motivation letter, dan yang pasti sertifikat test bahasa Inggris. Ada beberapa universitas yang meminta nilai GMAT untuk jurusan MSc Marketing. Tentunya saya dengan cepat mengeliminasi univ-univ tersebut karena saya terlalu malas untuk belajar GMAT plus ngambil testnya.

Berhubung mama saya kuliahnya di Amsterdam, jadi saya cari universitas yang lokasinya juga di Amsterdam. Universitas di Amsterdam yang memiliki program MSc Marketing yang tidak meminta nilai GMAT hanyalah Vrije Universiteit (VU). Ok jadi saya fokus untuk apply ke universitas ini.

Sembari menyiapkan dokumen yang diminta, saya ikut kelas intesive IELTS di IDP Bandung plus daftar untuk IELTS exam. Nilai yang saya kejar adalah 7.0 untuk setiap komponen (listening, reading, writing, dan speaking) dan nilai average juga 7.0 karena itulah persyaratan dari VU. Dan… tanpa saya sadari, drama IELTS saya bermula di bulan December 2013.

December 2013

Saya mengikuti ujian IELTS pertama saya dan hasilnya kurang memuaskan.

Listening - 7 | Reading - 7 | Writing - 6.5 | Speaking - 6.5 | Average - 7

Karena masih test pertama dan masih banyak waktu, waktu itu saya masih optimis. Toh juga hanya dua komponen yang belum mencapai 7 dan nilainya juga cuma beda 0.5. Bisalah di naikin di test selanjutnya.

Dengan masih penuh semangat, saya daftar untuk test IELTS yang kedua kali. Untuk test yang kedua, saya tidak mengambil kelas intensive karena saya mau mencoba belajar sendiri. Sebagai gantinya, saya banyak belajar bareng sama temen-temen seperjuangan yang mau  S2 keluar negri.

February 2014

Setelah menyiapkan diri kira-kira 2 bulan, di bulan February awal saya mengikuti ujian IELTS yang kedua. Lokasi ujiannya masih di IDP Bandung. Pengumuman hasil test IELTS memakan waktu sekitar 2 minggu, jadi hasil testnya keluar tanggal 14 February. Valentine tahun 2014 (sampai sekarang) masih menjadi valentine yang paling menegangkan haha

Dan ternyata….. nilai writing sama speaking saya stagnan di 6.5!

Listening - 8 | Reading - 8.5 | Writing - 6.5 | Speaking - 6.5 | Average - 7.5

Haduuh…. perasaan selama belajar kemarin saya lebih fokus ke writing dan speaking. Tapi kok malah nilai listening dan reading saya yang naik. Berhubung masih bulan February dan deadline submit aplikasi S2 masih lama, saya masih tenang-tenang aja. Masih cukup lah waktunya untuk test yang ketiga kalinya (wkwkwk).

Maret & April 2014

Nggak ada drama IELTS di bulan ini karena saya pergi exchange AIESEC ke Pavia, Italy. Saya bahagia banget karena selama dua bulan saya tidak perlu latihan writing atau mempelajari hal-hal yang berhubungan sama IELTS.

Pengalaman gagal dua kali di test IELTS sebelumnya membuat saya penasaran akan rata-rata score IELTS yang diminta oleh universitas di Eropa. Apa iya mereka meminta 7.0 atau memang VU aja yang standardnya lebih tinggi dari yang lain. Ternyataa…… universitas lain kebanyakan hanya meminta average score 6.5 dan nilai per komponen 6.5 atau bahkan ada yang 6! Walaupun ada juga universitas yang meminta nilai average 7.0 tapi nilai minimum per komponen nya hanya 6.5. Nggak ada yang sampe 7…. Saya pun mengecek persyaratan jurusan lain di VU. Loh ternyata cuma MSc Marketing aja yang minta nilai setinggi ini! Jurusan lain hanya 6.5. Hadeuuhh…. nasib!

Oh iya, di bulan April, saya submit dokumen-dokumen untuk S2 di VU (kecuali IELTS). Setelah me-review aplikasi saya selama kurang lebih 1 bulan, saya mendapatkan conditional letter of acceptance (LOA) dari VU! Yeaay! I literally only need to pass this IELTS and I’m good to go! 

May 2014

Saat saya balik ke Indonesia di bulan May, saya kembali mencoba peruntungan. Berhubung saya membutuhkan visa untuk belajar di Belanda, saya harus submit semua dokumen sebelum 1 Juni. Nah… berarti bulan May ini adalah kesempatan terakhir saya untuk achieve band 7.0 dan saya super duper nervous!

Ok, karena ini merupakan last chance, jadi saya memutuskan untuk mengambil kelas intensive writing khusus IELTS sebelum saya mengambil testnya. Karena sudah dua kali gagal di Bandung, saya hijrah ke IDP Jakarta untuk les dan test IELTS. Di kelas intensive ini, setiap hari kita harus menulis essay dengan kaidah-kaidah IELTS. Dari mulai menulis essay berdasarkan pie chart yang di kasih, bagaimana mengemukakan pendapat dengan baik dan benar, vocab-vocab canggih, dan semua tentang academic writing.

Sembari nunggu hasil test keluar, saya email-email-an dengan admission board VU. Saya memberi tahu mereka kalau hasil test IELTS saya baru keluar 1 Juni (bertepatan dengan deadline submission mereka) dan saya juga nanya worst-case scenario kalau saya gagal lagi gimana. Dengan bijaknya, mereka hanya membalas: let’s just hope for the best and good luck with your test! We’ll discuss it further if you don’t pass this one.

Dua minggu pun berlalu dan tiba saatnya pengumuman test IELTS. Penasaran sama hasil test IELTS saya yang ketiga kalinya?

Listening - 7.5 | Reading - 6.5 | Writing - 5.5 | Speaking - 7.5 | Average - 7

NILAI WRITING SAYA MALAH TURUN KE 5.5!! WHAATT??!! Sumpah waktu itu saya super bete – kesel – ngambek sama IELTS. Masa udah les intensive writing, nilainya malah turun – anjlok – jeblok – jadi sejelek ini. Ya walaupun nilai speaking saya akhirnya diatas 7 (yeaay!) tapi nilai reading saya terjun bebas dari 8.5 ke 6.5. Yang bener aja.

Di lain sisi, saya juga super panik waktu itu. Test ini merupakan last chance saya untuk berangkat S2. Berhubung saya gagal lagi, berarti saya gagal berangkat juga dong… Perasaan sedih – panik – kesel, semua bercampur jadi satu. Mama saya menyarankan saya untuk segera email ke admission board, memberi tahu kabar buruk ini. Kira-kira emailnya seperti ini

email-conversation

Email conversation with VU Admission Board

Juni 2014

Sejujurnya saya sudah demotivasi sama IELTS. Males banget untuk test yang ke-empat kalinya…… Saya pun mencoba mencari alternative test lain, yaitu TOEFL iBT. Siapa tau kaan nilai TOEFL saya bisa lebih bagus dari nilai IELTS. Setelah browsing-browsing, saya memutuskan untuk ikutan test simulasi TOEFL iBT. Ternyataa… susah banget!! Jauh lebih susah dan ribet dibandingkan test IELTS. Semuanya serba computerized dan test nya pun di lab komputer. Test listening menggunakan headset dan saat test speaking kita merekam suara kita sendiri (bukan face-to-face meeting sama penguji kayak di IELTS). Oiya, semua juga di timer! Super nggak cocok banget untuk saya karena saya anaknya suka panikan. Saat hasil test iBT saya keluar, nilai saya hanya 70! Sedangkan VU meminta 100. Yakali, jauh banget. Akhirnya saya melupakan opsi ini dan kembali lagi ke IELTS.

Berhubung saya sudah gagal 3 kali test IELTS di IDP, saya nggak mau lagi test disana. Untuk test yang ke-4, saya memutuskan untuk daftar di British Council Bandung. Saat saya daftar, saya di kasih login username dan password untuk menggunakan aplikasi Road to IELTS. Melalui aplikasi ini, kita bisa melakukan self-study dan bisa set goal sendiri. Jadi kita bisa nentuin kita mau meningkatkan skill apa, dan nanti ada progress reportnya. Untuk reading dan listening, kita bisa langsung lihat score kita setelah simulasi test. Untuk writing, mereka memberikan contoh essay seperti apa yang mendapatkan nilai 7 and above. Applikasinya super recommended dan sejujurnya saya agak menyesal baru menggunakan app ini di akhir-akhir. Tau gitu dari dulu test di British Council aja supaya bisa belajar pake aplikasi ini.

Setelah kira-kira 2 bulan belajar, akhirnya pada tanggal 21 Juni saya mengikuti test IELTS lagi. Singkat cerita…. 2 minggu kemudian…. pengumumannya pun keluar. Hasilnya?

Listening - 8 | Reading - 7.5 | Writing - 6 | Speaking - 8 | Average - 7.5

Yak betul sekali. Seperti yang anda lihat, GAGAL lagi sodara-sodaraa…. Udah deh, saat itu saya benar-benar pasrah dan ikhlas kalau nggak jadi berangkat tahun 2014. Ya mau gimana lagi, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Test berkali-kali pun tetap saja nilai writing tidak pernah mencapai 7. Sudah ikut kelas intensive, belajar sama temen, peer-review, belajar sendiri, belajar pake applikasi, minta bantuan mama untuk periksa essay, baca buku How to Achieve Band 7.0, tapi semua sia-sia.

Orang tua saya juga sudah menyemangati dan bilang “Yaudah kak kalau nggak jadi sekolah tahun ini nggak apa apa. Kamu jadi bisa menyiapkan untuk tahun depan, siapa tau nilai writing kamu udah bisa tembus ke 7.0″. Mereka juga mengingatkan untuk segera memberitahu pihak admission board tentang nilai IELTS saya.

Dengan berat hati, saya mengirim email ke admission board.

email-conversation-2

Another conversation with VU Admission Board

Sesuai permintaan mereka, saya mengirimkan semua hasil test IELTS. Awalnya saya masih sangat menyesal karena nggak bisa jadi berangkat tahun itu. Tapi berulang kali orang tua saya mengingatkan saya untuk ikhlas. Mereka bilang “Kamu kan sudah berusaha maksimal, sekarang tinggal berdoa. Ikhlas-kan saja semuanya ke Allah karena Dia-lah yang tau apa yang sebenernya terbaik untuk kamu”.

Juli 2014

Saat saya (akhirnya) sudah benar-benar bisa ikhlas dan merasa nggak apa apa kalau nggak berangkat tahun 2014, tiba-tiba saya mendapat email dari admission board.

ielts-7

The best news, ever!!

ALHAMDULLILAH!! Rasanya nggak percaya dan super seneng banget karena akhirnya saya berhasil juga berangkat S2 setelah melewati drama IELTS yang nggak kelar-kelar!!

If there’s one thing I’ve learned from my IELTS drama, it’s not about the grammar or how fancy my English would be. It’s more about determination and your persistence in achieving your goal. On the one hand, melalui proses ini, saya juga belajar yang namanya ikhtiar dan tawakal. Setelah benar-benar berusaha, saya menyerahkan segalanya kepada Allah (melalui doa) dan ikhlas dengan keputusan-Nya.

img_8199

Fast forward to one year later…. the moment when I signed my MSc Marketing diploma!

Advertisements

7 thoughts on “My IELTS Drama: When Nothing Beats Determination

  1. Aku lagi nunggu hasil yang kedua, keluarnya tanggal 12 mei 2017.
    kak kalo idp sama British Council sama ga sih soalnya ?
    aku juga udah mulai give up

    Like

    • Halo Citra, salam kenal!

      Setau aku sih soalnya sama.. yang beda cuma examiner nya ajaa.. Goodluck ya sama IELTSnya! Semoga hasilnya sesuai harapan 😀 kamu baru test kedua kookk… jangan nyerah duluuu hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s